Sunday, August 2, 2009

Never Give Up

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi


Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik





Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa

Jangan Menyerah - d'masiv

Selengkapnya...

Monday, December 1, 2008

Twilight Zone



Sekitar 3-4 minggu yang lalu seorang rekan saya berteriak di jendela Yahoo! Messenger saya.


“Udah baca twilight beluuum? Akhir November film-nya udah maeeen......”

“Udah beliii....tapi blum sempet baca niiih....” keluh saya.


Rekan saya itu sudah sangat tidak sabar untuk menonton film yang diangkat dari Novel karya Stephanie Meyer berjudul Twilight.
Setelah memiliki sedikit waktu luang, saya menghabiskan 2 novel lain karya Arswendo Atmowiloto, Horeluya dan Kau Memanggilku Malaikat. Tidak terbersit dalam pikiran saya waktu itu untuk membaca Twilight. Padahal novel itu sudah cukup lama bertengger dengan manis di rak buku saya dalam keadaan masih terbungkus plastik.
Barulah dalam minggu ini, ketika euforia film Twilight ini bergema dimana-mana, saya teringat untuk membaca novel tersebut.


Beberapa novel yang diangkat ke layar lebar, biasanya sudah saya baca terlebih dulu novelnya sebelum menonton filmnya. Bahkan Laskar Pelangi, sudah jauh saya selesai membacanya barulah ramai dibicarakan akan diangkat ke layar lebar. Dan khusus untuk yang satu ini...hikksss....dunia benar-benar kejam...saya belum sempet nonton film-nya. Pleaseee dehhh....seluruh Indonesia sudah segitu hebohnya dengan film ini..kemane aje sih gue..

Nah, karena jadi seperti tabu bagi saya menonton film yang diangkat dari sebuah novel, apabila saya belum membaca novelnya, maka saya putuskan untuk menyelesaikan Twilight weekend ini. Terus terang, saya terheran-heran ketika berhasil menyelesaikan novel 518 halaman ini dalam waktu 1 hari 1 malam, secara rasanya terakhir kali, Harry Potter ke-2 adalah novel yang saya selesaikan dalam 1 malam (dan ironisnya, buku terakhir Harry Potter ini pun, belum saya baca sampai sekarang...hikksss.....

Begitu membaca Twilight, saya tidak bisa berhenti, terbawa suasana. Sebenarnya ide cerita novel ini sangat simple, sederhana. Percintaan remaja, menjadi sedikit tidak biasa, karena memuat forbidden love, cinta terlarang. Lalu kembali menjadi cerita yang sedikit sudah biasa, karena meskipun forbidden love, percintaan terjadi antara seorang vampir dan manusia. Bukankah ini cerita yang sudah sering?

Lalu mengapa Twilight ini terasa sangat menggema?
Stephanie Meyer adanya yang membuat novel ini terasa nano-nano. Manis, asin, renyah, gurih, dan memaksa orang menikmatinya terus...dan terus...seakan tidak bisa berhenti, seperti ketika sedang makan keripik, yang belum berenti kalau belum habis

Pembaca dibuat menahan nafas dan menanti-nanti kapan tiba saatnya first kiss Edward (sang vampir super ganteng) dan Bella. Lalu permainan emosi pemeran dalam novel, yang mungkin kadang-kadang membuat pembaca menjadi gemes.
Edward yang bolak-balik ragu untuk mendekati Bella, karena takut mencelakakan Bella. Lalu Bella, yang seringkali ceroboh, dan menjadi seperti magnet pengundang bahaya bagi dirinya sendiri. Atau ketika Bella tersiksa oleh perasaan ingin menyentuh wajah Edward....hhh....

Penggambaran tokoh Edward sendiri sudah memberikan rasa penasaran, akan seperti apakah vampir super ganteng ini diperankan dalam versi layar lebar? Sanggupkan membuat penonton wanita menahan nafas?

Saya sendiri belum nonton film-nya, dan saya sangat-sangat berniat untuk menontonnya.
Novel ini sanggup membuat saya menyesal, karena saya tidak langsung membeli buku keduanya sekalian, ketika membeli buku yang pertama. Dan rasanya saya sudah ingin berlari ke toko buku begitu saya selesai membaca buku pertamanya tadi sore. Buku ke-4 Laskar Pelangi, Maryamah Karpov, yang baru diluncurkan saja tidak membuat saya ingin berlari ke toko buku.
Hhhhh....payaaah...kok saya jadi kena demam Twilight siiih yaaa....saya bener-bener terperangkap di Twilight Zone sepertinya.
Bingung....enaknya besok pulang kantor, nonton Twilight atau ke toko buku yaaak???
Selengkapnya...

Saturday, November 29, 2008

T-DAY


Hari Thanksgiving (T-Day) dirayakan dibeberapa negara dengan latar belakang yang berbeda dan tanggal yang berbeda. Di Canada, dirayakan setiap 2nd Monday in October (jatuh pada tanggal 13 Oktober 2008), sedangkan di US, dirayakan setiap 4th Thursday in November (U.S.) 2008 yang jatuh pada tanggal 27 November 2008 .

Menurut dari Wikipedia, Tradisi merayakan Thanksgiving dengan makan bersama dimulai di Amerika pada tahun 1621. Kaum pilgrim yang bermukim di Plymouth Massachusetts mengadakan pesta makan bersama penduduk asli Amerika suku Wampanoag. Tradisi pesta makan Thanksgiving berlanjut hingga sekarang dan disebut "makan malam Thanksgiving" dengan menu utama berupa kalkun. Untuk lengkapnya silahkan baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Pengucapan_Syukur atau http://en.wikipedia.org/wiki/Thanksgiving .

Apapun sejarahnya dan tanggal berapapun perayaannya, tidaklah menjadi point utama bagi saya. Yang jelas, hari ini, saya benar-benar mengucap syukur, berterima kasih pada Tuhan, karena sekali lagi, Dia membuktikan bahwa sesuatu yang tampak mustahil, tidaklah menjadi mustahil bagi Dia.

Yup...hasil ujian Sertifikasi yang saya cemaskan sudah keluar. Malam tadi, ketika saya sedang bertemu dengan 2 orang teman saya, tiba-tiba ada SMS masuk ke HP saya. Ternyata dari rekan kantor saya, yang merupakan koordinator ujian Sertifikasi. Beliau mengabarkan bahwa hasil ujian Nasional tersebut sudah keluar. Saya heran, karena lebih cepat dari jadwal semula, tgl 29 November 2008. Kemudian saya membalas SMS dan meminta format SMS untuk menanyakan nilai. Maklum, jaman sekarang ini, pemanfaatan SMS sudah sangat meluas. Termasuk penggunaan SMS sebagai sarana mengakses nilai ujian dari Badan Sertiikasi Nasional ini. 

Ketik SMS = xxxx [spasi] nilai [spasi] nomer id, kirim ke 6768

Dengan cepat saya segera mengirimkan SMS dengan format tersebut.
Tak lama kemudian, masuk SMS balasan,

“Maaf, layanan utk sementara tidak dapat digunakan”.

Halah...halah...Saya berpikir, ini sebenernya error atau memang belum tersedia informasinya.
Saya tidak mencoba mengirim ulang SMS, karena saya pikir, ya sudah besok saja.
Namun 2 menit kemudian ada SMS masuk lagi.

“Nomer ID Anda XXXXXXXXXXX. Nilai Anda pada pelaksanaan ujian tanggal 15 November 2008 Tingkat 2 adalah XX”

Wah....Puji Tuhan. Saya lulus.
Dari 50 soal, ternyata 2 soal salah. Amazing rasanya kalau membayangkan persiapan yang saya lakukan. Saya jadi teringat kata-kata seorang sahabat saya, “Kamu sudah mengusahakan yang terbaik dari kamu, berdoa saja, karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”.

Saya jadi ingin menyanyikan lagu lama berjudul Pelangi Kasih,

Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan b’ri

Tuhan-mu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu

Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasih-Nya

Saya tertegur, seringkali, saya lupa untuk mengucap syukur dan lupa untuk berserah pada Tuhan, terutama ketika kejadian yang tidak mengenakkan terjadi. Padahal, seringkali dalam banyak hal Tuhan memperlihatkan pelangi kasih-Nya, tak pernah berhenti, bahkan sehabis “hujan”, pelangi kasih-Nya tampak begitu indah.
Selengkapnya...

Thursday, November 27, 2008

BLAKANIS


Akhirnya setelah melewati libur kemerdekaan, buku ini berhasil saya selesaikan. (Unfortunattely, baru sekarang sempat menuliskan apa yg saya temukan dalam buku ini)
Buku yang menarik, dari cover-nya. Ya meskipun ada pepatah "don't judge a book by it's cover"...jujur, saya kadang kala tertarik pada sebuah buku karena cover-nya yang memikat mata. Arswendo Atmowiloto sang penulis buku ini pun memberikan daya tarik tersendiri bagi saya. Meskipun, sekali lagi..don't judge a book by it's Author :D

Setelah membaca cuplikan buku ini, baru saya sadar judulnya diambil dari bahasa jawa.. "blaka".
Alur cerita dipaparkan dari berbagai sudut pandang para pelakon utama dalam buku ini, yang semuanya menceritakan pengalaman maupun pandangan mereka dalam menganut "blakanis".

Lakon utama diperankan oleh seorang pria yang menyebut dirinya sebagai Ki Blaka.
Nama aslinya Wakiman, usia diduga mendekati 60th. Mengaku berdarah bangsawan, dan mengaku pernah mendaftar masuk angkatan laut. Di suatu pemukiman, Ki Blaka datang dan menetap, mengenalkan diri pada warga, mengundang warga datang dan mengajak mengobrol warga. Ketika mengobrol, Ki Blaka mengajak orang-orang untuk menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaliknya, Ki Blaka akan menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang diajukan padanya. Semakin lama peserta ngobrol makin banyak dan menjadi rutin dilakukan. Pemukimannya lalu dikenal dengan Kampung Blakan dan orang-orang yang menghadari acara lalu mengikuti pandangan Ki Blaka ini, menyebut dirinya dengan Blakanis.

Ada tokoh Emak, yang sebenarnya adalah seorang suster bernama Emmanuella. Suster Emak tertarik pada Ki Blaka dan banyak membantunya. Suster Emak pun sempat bimbang, apakah benar ia terpanggil?

Lalu ada pula tokoh Ai, berumur 25th, cantik, istri seorang yang kaya dan terkenal, memiliki 1 anak, pernah menjadi model iklan. Ai inilah yang mempopulerkan kebiasaan “adus Ai”, ritual mandi telanjang di sungai sebelum mengikuti pertemuan para blakanis.
Novel dengan 4 bagian ini, diawal dengan cerita dari sudut pandangan Mareto, intel polisi yang dipecat dan aktif dalam kegiatan kampung Blakan. Ketika kampung blakan dan kegiatan blakanis terancam oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan, Mareto merasa membunuh Ki Blaka adalah tugasnya, untuk menolong Ki Blaka sendiri. Karena menurutnya, hanya kematian yang bisa menjadi penyelamat hidup.

Ketika makin banyak orang dari berbagai tempat dan kalangan yang mengikuti kegiatan blaka ini, termasuk pejabat pemerintah yang jujur mengatakan tentang korupsi yang dilakukan dan siapa saja yang terlibat, maka ini keberadaan Ki Blaka dan kampung Blakan menjadi ancaman bagi orang-orang tertentu yang lalu berniat melenyapkan Ki Blaka dan kampung Blakan.

Mengikuti alur novel ini mungkin sedikit rumit, karena bukan diceritakan berdasarkan runtutan waktu. Tapi lebih ditekankan pada penceritaan oleh tokoh-tokoh utama, ditambah dengan tokoh-tokoh tambahan lain yang merupakan pengunjung kampung Blakan.
Pelakonan para tokoh cukup bervariasi, berasal dari berbagai macam latar belakang sosial dan profesi.

Yang menarik sesungguhnya adalah ide cerita.
Pembaca dibawa untuk membayangkan suatu pandangan yang dianut oleh seorang Ki Blaka yang kemudian menyebar ke beberapa orang, lalu melanda berbagai daerah sampai akhirnya terbayang suatu negara "blakanis".
Mungkin ini menyuarakan pesan tersendiri dari Sang Penulis.
Dengan cukup piawai, penulis mencoba menyentuh berbagai kalangan, fenomena atau bahkan ritual-ritual yang terjadi di negeri ini.


NILAI-NILAI

Saya sendiri, berulangkali menandai setiap kalimat yang menyentuh dan membuat saya berpikir ulang, atau bahkan menengok ulang serta membandingkan dengan kehidupan nyata.

Kejujuran itu seperti bernapas.
Kita tak perlu belajar terlebih dahulu, tak perlu mengatur bagaimana memulainya. Sangat sederhana, semua juga bisa melakukannya.
Memang demikian seharusnya, tapi nyatanya, sulit sekali melakukan kejujuran. Seringkali kita mati-matian menutupi siapa diri kita sesungguhnya, Jaim (jaga image) dsb.
Dalam salah satu percakapan, intinya, mengapa orang dengan mudah mengatakan percaya pada Tuhan namun tidak hidup jujur? “Kalau kepada Tuhan kita tak berani jujur, apalagi kepada sesama manusia.”

Kejujuran tidak menghapus dosa
Seorang yang mencuri motor, tidak dengan sendirinya menjadi bebas dari tuntutan karena ia berkata jujur. Ia tetap melakukan kesalahan dan ada penyelesaiannya sendiri. Kejujuran bukan berarti menjadi sakti. Kejujuran tidak dapat menghapus dosa, tapi dapat meringankan beban.
Seringkali, ketika berkata jujur, kita beranggapan semua kesalahan atau dosa menjadi hilang begitu saja. Berkata benar dan bertobat adalah satu hal, namun setiap perbuatan dosa, pasti ada perhitungannya sendiri, dan Tuhan Sang Hakim Agung yang berhak menghitungnya.

Klop
Dalam satu kesempatan, Ki Blak bercakap-cakap dengan seorang anak muda pengunjung kampung Blakan. Wahyu Ariotomo, seorang sarjana yang akan di wisuda, namun sebatang kara dan sedang berusaha keras untuk menemukan seorang “ibu” untuk mendampingi acara wisudanya. Yang lalu secara kebetulan, bertemu dengan Lola (Ola), wanita 42 tahun yang pergi ke kampung Blakan bersama 4 sahabatnya. Lola, mantan pelacur yang dinikahi pelanggannya, namun ditinggal kawin lagi, kemudian menjadi mucikari. Menemukan “pencerahan” di kampung Blakan, termasuk bertemu dengan Wahyu yang “menyewanya” untuk berperan sebagai ibu. Nasehat Ki Blaka pada Wahyu yang sudah hampir putus asa waktu itu adalah :
“Sebenarnya sederhana saja. Kamu mencari seseorang untuk menjadi ibu kandung kamu, dan banyak sekali ibu kandung yang juga mencari anak-anaknya. Kalau bisa ketemu, itu namanya klop. Kalau tidak, ya barangkali belum. Terus dicari.
Sederhana itu begini. Saya sakit kepala, diberi obat sakit kepala. Itu klop. Saya butuh uang, ada yang mau memberi utang. Itu klop. Tapi kalau belum klop, segalanya menjadi susah. Saya sakit kepala, dapat obat sakit jantung, kan tidak memberikan hasil.
Contoh lain yang diberikan Ki Blaka, tentang Keris Pusaka. Kalau pembelinya bukan penggemar keris atau barang antik, ya tidak mau membeli, atau membeli dengan harga murah. Bukan berarti keris pusaka itu tidak berharga, bukannya dunia tidak mau membayar, bukannya tak ada penghargaan untuk itu, melainkan perlu ada orang atau waktu yang tepat.
“Kalau kamu perempuan, sedang hamil, ngidam durian, diberi nangka, tentu tak mau menerima. Bukan durian lebih bagus dari nanga,atau sebaliknya, melainkan mana yang klop.
Seringkali, daripada menunggu yang “klop”, kita terburu-buru menerima yang tidak klop atau kurang klop, atau kita memaksa untuk menganggap klop atau meng-klop kan sesuatu??


Catatan dalam hati
Pada suatu percakapan antara Suster Emak dan Ai, Emak berkata,
“Ai, sejauh yang saya tahu, kalau kita blaka, tidak berarti memperlihatkan payudara kita. Atau mengatakan apa yang pernah kita dustakan. Kalau kita takut berdusta, kita tak usah menjawab pertanyaan yang diajukan. Tidak usah menjawab dengan kata-kata. Cukup menjadi catatan dalam hati kita.”

Sesungguhnya, kejujuran bukanlah hal yang mudah di jaman sekarang ini. Pun bila kita mau memulai untuk hidup jujur, apakah kita perlu mengakui semua ketidakjujuran yang pernah kita perbuat sejak kita lahir?
Seperti apa yang Ki Blaka katakan, “Saya bisa saja mengatakan, mulai sekarang saja kita jujur. Tak usah menanyakan masa lampau... atau yang akan datang. Kejujuran tidak bisa disekat mulai tahun 2000 atau 2007 saja.”
Namun bagaimana dengan rumah tangga yang hancur berantakan, karena kejujuran yang dilakukan? Yah, benar, seringkali, tanpa bermaksud jahat pun, kita bisa menjadi jahat.
Ungkapan Arswendo melalui Ki Blaka ini, memang patut kita renungkan. Banyak hal dan kejadian yang saya alami, lihat maupun dengar, dimana, niat baik seseorang, ternyata tidak berakhir dengan kebaikan. Maksud hati menolong orang, ternyata malah jadi menyusahkan orang.

Ya, tentunya, kejujuran haruslah diletakkan pada “tempat”nya.
Kejujuran bukan senjata untuk menghakimi, mengutuk, menista, atau mencari kejelekan. Juga bukan untuk mencari kemenangan.

Saya jadi teringat pesan Babe Benyamin pada si Doel anaknya, dalam sinetron Si Doel Anak Betawi...”Doel, Hidup tuh mesti jujur...jujur...jujur...kalo lo ga jujur, bakalan ancur....”
Tapi kok hari gini, lebih sering terkesan hidup jadi ancur justru karena jujur yaaak?
Hmmm....mungkin norma-norma dunia memang lagi terbalik.
Selengkapnya...

Saturday, November 22, 2008

K I S S

Fiuuuh....minggu lalu adalah minggu yg sangat menyebalkan.
Sabtu tgl 15 November kemarin, saya harus menghadapi ujian Sertifikasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Ujian ini sebenarnya udah saya ketahui jadwalnya 1 bulan yang lalu. Namun deraan pekerjaan yang terkadang datang tak diundang, tapi pulang minta diantar, membuat saya tidak memiliki waktu untuk membuka-buka handout atau berlatih soal.

Saya berniat setelah kesibukan sedikit mereda, kira-kira 1 minggu sebelum ujian, saya belajar dengan serius. Rasanya, waktu 1 minggu cukuplah kalau diiringi dengan niat yang teguh dan doa yang tulus..hehehe.
Namun kembali terjadi hal yang tidak terduga yang sangat menguras tenaga dan pikiran, sehingga, totally selama 1 minggu itu saya dengan sukses, gagal menjejalkan materi ujian ke dalam otak saya.

Sempat seorang sahabat menyapa saya melalui YM, dan saya bercerita bahwa saya sedang sangat malaaaas untuk belajar. Lalu sahabat saya bertanya, ujian apa? Saya menjawab, yah..ujian yang berbau-bau me-manage resiko. Lalu, spontan sahabat saya berkata, “Nah...udah tahu dong berarti..apa resikonya kalau males belajar???”
DHUUEEEENGGGG....................
Walah, otak saya seperti dipukul pake palu besi raksasa.....Huaahahaha.
Bener-bener sindiran yang muaaanjuuuur.....

Tapi apa daya, masalah menyebalkan yang terjadi di minggu saya harus menghadapi ujian itu, benar-benar menyebalkan, karena saya menjadi tidak dapat berkonsentrasi sama sekali.
Dan saya bertambah sebal, karena biasanya saya orang yang easy going, sehingga jarang terpengaruh suatu masalah secara berlarut-larut. Emang sih belum lama banget masalahnya, tapi saya tidak punya waktu sama sekali untuk memikirkan masalah itu, mengambil sikap dan menuntaskannya. Karena saya hanya punya waktu sedikit sekali untuk belajar, sementara siang hari saya tetap harus bekerja.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor selama 1 hari. Baru kali ini saya benar-benar merasa cemas. Tahun lalu, waktu saya mengambil ujian yang sama, namun untuk level 1 nya, saya tidak merasa cemas sama sekali, meskipun waktu itu “ketidakberuntungan” juga menerpa saya, karena satu hari sebelum ujian, saya jatuh dari motor ketika hujan dan dengan nyaman, knalpot motor mendarat di betis sebelah kanan saya, yang lalu pada malam harinya membuat badan saya meriang ngga karuan :D

Tapi kali ini, saya benar-benar cemas. Saya merasa terancam tidak lulus, apalagi setelah saya mencoba untuk mengerjakan 1 tipe soal latihan dan blaaaasss......saya tidak bisa sama sekali. Semua yang pernah saya baca seperti menguap begitu saja dan tidak nyantol sama sekali dipikiran saya. Tidak lulus memang bisa mengulang, tapi saya rasanya tidak sanggup menanggung malu kalau sampai tidak lulus.....benar-banar tak terbayangkan...seluruh kantor akan mengetahuinya...Fiuuuuhhh... OEMJI....

Dan ketika cuti itu, saya berusaha meng-“OFF”-kan pikiran saya terhadap masalah yang ngga penting itu (*nggak penting tapi kok menganggu amat yaak..*)
Lalu saya berkata dengan nada keras pada diri saya sendiri... KISS...KEEP IT SIMPLE, STUPID !!!
Gitu aja kok repot, kenapa juga dibuat susah, toh masalahnya dah selesai, lebih baik, buka tong sampah dan lempar tuh masalah ke tong sampah, tutup, kalau perlu tungguin tuh truk sampah dan pastiin tuh sampah diangkut ke Bantargebang....beressss dah.

Jadi selama 2 hari tersisa sebelum ujian, semboyan itu saya dengungkan terus di kepala saya...
K – I – S – S .....KEEP IT SIMPLE, STUPID ! :D
Lumayan berhasil meracuni pikiran saya ternyata...hehehe.
Sekarang tinggal menanti saat pengumuman kelulusan 1 minggu lagi...
Wismilaaak....



Selengkapnya...