Tanggal 2 Mei yang lalu, tepat 9 tahun papa saya berpulang ke rumah Bapa di surga. Dan hampir 13 tahun berlalu sejak adik saya, satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga saya berpulang juga ke rumah Bapa di surga. Saya tidak tahu, apakah waktu 9 tahun atau 13 tahun itu waktu yang lama atau sebentar.
Kalau berbicara rasa kehilangan, tentunya saya kehilangan. Terutama kalau sedang ada moment tertentu, kumpul keluarga, jalan-jalan, makan makanan kesukaan papa atau adik, tentunya ingatan akan mereka muncul.
Berbicara rasa kehilangan, tentunya tidaklah menyenangkan. Entah itu kehilangan karena orang yang dekat dengan kita sudah dipanggil Tuhan atau karena sesuatu hal tidak dapat berhubungan lagi dengan orang tersebut.
Kehilangan karena orang yang kita sayangi meninggal, mungkin sangatlah berat untuk diterima. Apalagi pada waktu yang mendadak.
Saya mengalaminya ketika adik saya terkena demam berdarah dan dalam waktu yang sangat singkat, tidak tertolong. Dalam kondisi yang tidak berdaya saya harus menerima kabar tersebut di tengah malam dan saya tidak mampu berbuat apa-apa, terpaksa menunggu lagi, untuk pulang ke bogor dari yogya karena saya masih kuliah pada saat itu. Rasa sesal memenuhi hati dan pikiran saya pada waktu itu, karena saya tahu sebelum sakit, adik saya menanyakan kapan saya pulang, karena dia ingin belajar gitar, meskipun saya hanya bisa main gitar asal-asalan. Saya cukup dekat dengan adik saya, meskipun kami berbeda 10 tahun. Mungkin karena kami lebih nyambung. Sejak kecil saya lebih menyukai permainan anak laki-laki, jadi saya lah yang mengajarkannya menaikkan layang-layang dan bermain-main dengan gergaji, paku, tang dan obeng untuk membuat macam-macam mainan :)
Tentunya orang tua saya sangatlah terpukul. Hendak menyalahkan pihak runah sakit yang tidak cepat tanggap, rasanya tidak ada gunanya.
Kami bertanya pada Tuhan,mengapa Dia harus mengambil, setelah Dia memberi diwaktu orang tua saya tidak lagi berharap memiliki anak laki-laki. Saya tiga bersaudara, semuanya perempuan,dan 10 tahun sejak saya lahir, ternyata Tuhan memberikan adik laki-laki pada kami, yang 12 tahun kemudian, Tuhan mengambilnya kembali.
Lain dengan papa saya yang meninggal karena sakit.
Meski kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk pengobatan papa, rasanya kami juga sadar bahwa suatu saat kami harus "melepas"nya.
Namun tetap saja, saat waktu itu datang, kami sangatlah kehilangan.
Penyesalan kembali datang untuk saya,karena saya tidak sempat menunggu detik-detik terakhir itu. Saat itu saya bekerja dan kos di jakarta. Hari itu saya sudah sangat ingin pulang ke bogor,meskipun bukan weekend, firasat mungkin.
Namun ada pekerjaan yang mendesak dan akhirnya sudah terlalu malam untuk pulang ke bogor dengan bis. Subuhnya saya mendapat kabar bahwa papa saya sudah pulang ke rumah Bapa. Sesal menusuk rasa pagi itu.
Hampir setahun yang lalu, kakak perempuan saya kehilangan bayinya yang sudah berumur 8 bulan dalam kandungan. Bayi laki-laki yang seharusnya menjadi anak kedua, setelah putri pertamanya. Aneh kalau dipikir, sementara putri pertama kakak saya, adalah bayi prematur yang lahir diusia 7 bulan, dengan berat kurang dari 1 kg. Hanya kuasa Tuhan yang membuat bayi kecil ini dapat tumbuh berkembang dengan sehat, setelah 3 bulan menjadi penghuni inkubator di rumah sakit.
Tiga bulan yang lalu, sahabat saya kehilangan kakak tercintanya secara tak terduga. Serangan jantung, dalam usia yang relatif muda, meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil.
Tiga bulan yang lalu juga, kawan lama saya kehilangan putri kecilnya, yang baru berumur 7 atau 8 tahun. Putri kecil nan cantik. Hingga hari ini, saya selalu miris bila membaca statusnya baik di FB maupun di BB. Status penuh kerinduan yang mendalam. Saya mengerti, tentunya kawan saya berharap dapat menyentuh, memeluk dan bercanda lagi dengan putri kecilnya.
Dua minggu yang lalu, sahabat saya kehilangan keponakannya, yang berumur 18 tahun. Ditemukan meninggal setelah 3 hari hilang ditelan keganasan pantai selatan Pelabuhan Ratu. Almarhum mencoba menolong teman-temannya yang nyaris tenggelam, namun sayang, teman terakhir yang hendak ditolong, tidak tertolong, malah membawanya turut ditelan ombak. Meninggalkan kepedihan bagi orang tua dan keluarganya.
Kisah-kisah sedih kehilangan orang terdekat tidak akan cukup berlembar-lembar bila dikisahkan.
Mungkin saya harus bersyukur karena saya bukan orang yang mengingat dengan detail untuk segala sesuatu dan saya cenderung "easy going", tidak suka memikirkan hal hal yang tidak menyenangkan secara berlarut-larut.
Sehingga pernah seorang sahabat saya mengatakan,saya seperti punya tombol "on/off", yang bisa saya tekan sesuka hati saya. Kapan saya memutuskan untuk "on" atau "off" dalam memikirkan atau merasakan hal hal tertentu.
Kehilangan orang-orang terdekat bukanlah hal yang mudah. Saya menanamkan dalam pikiran saya,bahwa mereka "tidak benar-benar hilang". Mereka hanya tidak lagi berada di sekitar saya. Sehingga saya harus membiasakan diri dengan ketidakberadaan mereka di sekitar saya. Tentunya hal ini pun tidaklah mudah. Bahkan bagi sebagian orang, sangatlah sulit. Dan beberapa orang bahkan tidak sanggup menerima kenyataan, sehingga berakhir dalam keadaan seperti "hidup di dunia lain".
Kalau berbicara dari sisi agama mengenai kehilangan orang-orang yang melalui cara meninggal dunia, tentunya akan banyak "metode" penghiburan. Ada yang mengatakan, tidak perlu takut, karena yang bersangkutan sudah berada di rumah Tuhan dan kelak kita akan berjumpa dengannya. Ada juga yang mengatakan, yang penting mari kita berdoa tanpa henti, agar yang bersangkutan dapat diterima di sisiNya. Ada juga yang percaya reinkarnasi, sehingga akan ada kesempatan bagi kita untuk bertemu dalam sosok yang lain.
Apapun bentuk penghiburan itu, kadang "belum tentu" dapat membantu kita keluar dari gelombang kesedihan. Kita berkata, teori memang gampang. Itu kan urusan "nanti" atau "kelak". Sementara ini urusan "sekarang". Urusannya sekarang ini kita tidak bisa lagi melihat orang tersebut. Tidak bisa lagi menyentuhnya, memeluknya, berbicara padanya. Kita rindu mereka "terjangkau" oleh kita.
Teringat saya akan lagu "Memiliki Kehilangan" nya Letto.
Bagi yang lupa atau belum tahu, begini lirik lagu itu :
tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
hatimu tetap merasa masih memilikinya
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya
pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya
pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya
Ada banyak pengartian untuk lagu ini.
Bagi saya, ada 2 pengartian.
Pertama, bahwa rasa kehilangan akan sesuatu atau seseorang,itu hanya akan ada kalau kita pernah merasa memiliki mereka.
Ya iyalah. . . Bagaimana mungkin kita merasa kehilangan sebuah handphone, kalau kita tidak pernah memilikinya?
Atau kita merasa kehilangan atas meninggalnya orang yang belum pernah kita kenal sama sekali?
Mungkin maksudnya adalah, menyadari, bahwa semua yang kita miliki itu, kelak akan sirna, akan hilang, akan pergi.
Semua bersifat hanya sementara, hanya titipan. Kalau sang pemiliki yang menitipkan kepada kita suatu saat mengambilnya, apakah kita akan marah? Atau tidak rela? Tuhan menitipkan adik saya pada keluarga kami hanya selama 12 tahun, setelah selama 10 tahun tidak memberi anak laki-laki pada orang tua saya. Kalau dipikir-pikir, tentu bertanya pada Tuhan, untuk apa ya diberi lalu diambil kembali.
Yah, namanya juga titipan, suka-suka yang nitip lah ya. Tapi kami bersyukur sempat "meminjamnya" selama 12 tahun.
Saya bersyukur, pernah merasakan tidak menjadi anak bontot selama 12 tahun.
Saya bersyukur, pernah merasakan memiliki adik kecil yang lucu untuk diajak bermain.
Saya bersyukur, akhirnya saya tidak sendirian saat bermain layang-layang.
Saya bersyukuf, saya pernah punya sekutu untuk menjahili kakak nomor 2 saya.
Banyak sekali kenangan selama 12 tahun itu.
Dan kenangan itu selalu ada sampai saat ini.
Demikian juga dengan papa saya, banyak kenangan akan beliau. Menantinya pulang dari luar kota, karena pasti membawakan oleh-oleh untuk kami, yang pasti kami akan berebut untuk memilih terlebih dahulu. Mendengarkannya bermain biola,okulele, atau sibuk memintanya menerjemahkan lagu mandarin. Sayang kami tidak bisa membaca huruf mandarin, sehingga tidak dapat menikmati puisi-puisi yang ditulis papa saya dalam bahasa mandarin.
Apapun kenangan tentang papa, masih hidup sampai saat ini dalam benak saya.
Saya merasa kehilangan, karena saya pernah memiliki mereka.
Dan rasa kehilangan itu, membuat saya belajar untuk menghargai apa yang saya miliki saat ini. Karena kesadaran, bahwa suatu saat akan tiba, dimana sudah habis waktunya bagi saya untuk memilikinya.
Arti kedua lagu itu bagi saya,mengutip lirik "rasa kehilangan, hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya", saya artikan bahwa, rasa kehilangan akan ada, kalau kita memiliki "rasa kehilangan" itu.
Membingungkan ya. . .hehehe.
Begini maksudnya, saya mencoba mengerti bahwa, ketika papa saya atau adik saya meninggal, sesungguhnya saya tidak benar-benar kehilangan orang-orang yang saya kasihi. Saya tetap memiliki mereka, meski kini mereka tidak ada lagi disekitar saya.
Hal ini membuat saya tidak berlarut-larut dalam rasa kehilangan.
Bahwa sesungguhnya, rasa kehilangan itu lambat laun akan sirna. Waktu akan menolong saya untuk membuat rasa itu sirna.
Tentu saja, kalau saya "mengijinkan" sang waktu itu untuk membantu saya.
Saya memilih untuk tidak terus memiliki rasa kehilangan itu.
Seringkali, kita tidak mengijinkan siapapun untuk membantu kita melewati masa-masa sulit akibat kehilangan. Tidak mengijinkan Tuhan, keluarga, teman bahkan sang waktu.
Kita menolak memasuki "jalan waktu", kita ingin waktu berhenti, bahkan kalau bisa mundur, sehingga kita tidak perlu mengalami kehilangan itu. Dan kita enggan beranjak. Kita menikmati kesedihan, menikmati rasa kehilangan.
Mengutip pepatah umum, bahwa sesungguhnya tidak ada yang abadi di dunia ini.
Siap atau tidak, senang atau tidak, kita harus berhadapan dengan rasa kehilangan.
Kehilangan karena ditinggalkan anggota keluarga yang kita cintai, kehilangan sahabat-sahabat karena jarak dan waktu, kehilangan kekasih yang mungkin tidak lagi mencintai kita, apapun bentuk kehilangan itu, janganlah larut dalam rasa kehilangan itu.
Kita masih memiliki apa yang masih ada pada kita.
Mengapa segala sesuatu ada akhirnya? Segala sesuatu ada waktunya?
Sesuatu yang selalu ada, akan membuat kita "kurang" menghargainya.
Seperti doa sang pemazmur, "Ajarlah kami mengitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana".
Bijaksana untuk sadar bahwa semua yang kita miliki tidak ada yang abadi, suatu saat masa meminjamnya akan berakhir.
Hargai dan sayangi apa yang dipinjamkan sementara itu.
Mari kita menghitung hari, sehingga bila saatnya tiba, kita tidak lagi tersentak...
Dan bila saatnya tiba, kita memiliki kenangan yang cukup, karena : "kehilangan seseorang yang dekat dengan kita, tidak berarti mereka benar-benar hilang, mereka hanya 'tidak hadir' lagi, namun mereka tetap ada dalam kenangan, yang bahkan mau sekalipun tidak akan dapat menghancurkannya".
www.menunggu-hujan.blogspot.com
Selengkapnya...
Friday, May 20, 2011
Memiliki Kehilangan
Saturday, November 22, 2008
K I S S
Fiuuuh....minggu lalu adalah minggu yg sangat menyebalkan.Sabtu tgl 15 November kemarin, saya harus menghadapi ujian Sertifikasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Ujian ini sebenarnya udah saya ketahui jadwalnya 1 bulan yang lalu. Namun deraan pekerjaan yang terkadang datang tak diundang, tapi pulang minta diantar, membuat saya tidak memiliki waktu untuk membuka-buka handout atau berlatih soal.
Saya berniat setelah kesibukan sedikit mereda, kira-kira 1 minggu sebelum ujian, saya belajar dengan serius. Rasanya, waktu 1 minggu cukuplah kalau diiringi dengan niat yang teguh dan doa yang tulus..hehehe.
Namun kembali terjadi hal yang tidak terduga yang sangat menguras tenaga dan pikiran, sehingga, totally selama 1 minggu itu saya dengan sukses, gagal menjejalkan materi ujian ke dalam otak saya.
Sempat seorang sahabat menyapa saya melalui YM, dan saya bercerita bahwa saya sedang sangat malaaaas untuk belajar. Lalu sahabat saya bertanya, ujian apa? Saya menjawab, yah..ujian yang berbau-bau me-manage resiko. Lalu, spontan sahabat saya berkata, “Nah...udah tahu dong berarti..apa resikonya kalau males belajar???”
DHUUEEEENGGGG....................
Walah, otak saya seperti dipukul pake palu besi raksasa.....Huaahahaha.
Bener-bener sindiran yang muaaanjuuuur.....
Tapi apa daya, masalah menyebalkan yang terjadi di minggu saya harus menghadapi ujian itu, benar-benar menyebalkan, karena saya menjadi tidak dapat berkonsentrasi sama sekali.
Dan saya bertambah sebal, karena biasanya saya orang yang easy going, sehingga jarang terpengaruh suatu masalah secara berlarut-larut. Emang sih belum lama banget masalahnya, tapi saya tidak punya waktu sama sekali untuk memikirkan masalah itu, mengambil sikap dan menuntaskannya. Karena saya hanya punya waktu sedikit sekali untuk belajar, sementara siang hari saya tetap harus bekerja.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor selama 1 hari. Baru kali ini saya benar-benar merasa cemas. Tahun lalu, waktu saya mengambil ujian yang sama, namun untuk level 1 nya, saya tidak merasa cemas sama sekali, meskipun waktu itu “ketidakberuntungan” juga menerpa saya, karena satu hari sebelum ujian, saya jatuh dari motor ketika hujan dan dengan nyaman, knalpot motor mendarat di betis sebelah kanan saya, yang lalu pada malam harinya membuat badan saya meriang ngga karuan :D
Tapi kali ini, saya benar-benar cemas. Saya merasa terancam tidak lulus, apalagi setelah saya mencoba untuk mengerjakan 1 tipe soal latihan dan blaaaasss......saya tidak bisa sama sekali. Semua yang pernah saya baca seperti menguap begitu saja dan tidak nyantol sama sekali dipikiran saya. Tidak lulus memang bisa mengulang, tapi saya rasanya tidak sanggup menanggung malu kalau sampai tidak lulus.....benar-banar tak terbayangkan...seluruh kantor akan mengetahuinya...Fiuuuuhhh... OEMJI....
Dan ketika cuti itu, saya berusaha meng-“OFF”-kan pikiran saya terhadap masalah yang ngga penting itu (*nggak penting tapi kok menganggu amat yaak..*)
Lalu saya berkata dengan nada keras pada diri saya sendiri... KISS...KEEP IT SIMPLE, STUPID !!!
Gitu aja kok repot, kenapa juga dibuat susah, toh masalahnya dah selesai, lebih baik, buka tong sampah dan lempar tuh masalah ke tong sampah, tutup, kalau perlu tungguin tuh truk sampah dan pastiin tuh sampah diangkut ke Bantargebang....beressss dah.
Jadi selama 2 hari tersisa sebelum ujian, semboyan itu saya dengungkan terus di kepala saya...
K – I – S – S .....KEEP IT SIMPLE, STUPID ! :D
Lumayan berhasil meracuni pikiran saya ternyata...hehehe.
Sekarang tinggal menanti saat pengumuman kelulusan 1 minggu lagi...
Wismilaaak....
Monday, November 10, 2008
Share a status message....
Tentunya rekan-rekan yang terbiasa menggunakan Yahoo!Messenger sebagai alat komunikasi, mengenal dengan baik kalimat di atas. Yuuup…salah satu feature YM adalah Status Message.
Entah karena saya lagi sensi atau justru teman saya yang sensi, Status YM kok bikin jadi runyam yak..
Begini ceritanya. Sudah cukup lama saya ngga online YM dan kalau pun online, biasanya saya akan invisible.
Nah sore hari itu, saya online (teteuup invisible :D ) dan seperti biasa, melihat di daftar YM, siapa saja yang online. Terlihat ID teman yang cukup dekat dengan saya, online (dengan stat : I don’t want to do this anymore)
Sejujurnya, saya adalah orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain, dengan arti kata, saya sangat-sangat benci kalau sampai ada yang bilang saya kepo (mau tauuuu ajaa urusan orang…-red). Bener-bener pantang bagi saya kalau sampai ada yang mengatakannya.
Tapi saat itu, karena teman saya itu cukup dekat dengan saya, sebut saja “A”…saya bertanya kepadanya.
Saya : do what?
Saya : :D
A : mau tau aje
(wakkksss…..alarm berbunyi…darah bergeAlak dan suhu mulai memanas. Padahal dengan niatan baik saya menyempatkan diri untuk menyapanya karena kuatir kalau-kalau ada sesuatu dengan dirinya)
Saya : gue cuma nanya...
Saya : klo ga mau ngasih tau ya udah
A : idihhhh
A : masalah keluarga kok
(dalam hati saya : kalau masalah keluarga, kan bisa tinggal jawab : ini masalah keluarga kok. Gak perlu dong mengeluarkan kata-kata yang saya benci itu)
Alhasil, setelah berusaha keras untuk tidak terpancing emosi, saya sedikit gagal juga. Tidak beberapa lama, teman saya itu menyuruh saya belajar, karena dia tau ada ujian yang harus saya ikuti tidak lama lagi.
A : belajarrrrrrrrrr
A : jangan chatting :P
Saya : mau belajar kek...mau maen kek.. mo chatting kek...
Saya : terserah gue donk
A : idih
A : elo lagi kenapa sih?
(mikir sesaat mau jawab apa)
Akhirnya akal sehat menang juga.
Saya : lagi chatting
A : ya udah
A : gue invi
Saya : yoi..
A : eh…..
A : nomor rekening BCA lo sms ke Halo gue dunk
A : gue mau transfer yg 20rb krmn
A : kmrn
Saya : 20rb apaan?
A : eh 200rb
Saya : ooh...
Saya : dah gampang deh.. nti waktu ketemuan aja
A : nanti ingetin gue yak
Saya : sipp...
Akhirnya chatting-an saya dan A berakhir hari itu.
Satu pelajaran yang saya tarik dari peristiwa itu. Saya jadi takut untuk menanyakan kepada seseorang tentang Status YM-nya.
Sebelumnya saya berasumsi, kalau seseorang memasang status YM, maka orang tersebut sedang mengekspresikan sesuatu, bisa suasana hati atau ingin menyampaikan sesuatu pada orang lain atau seseorang. Dan berarti orang tersebut sudah siap dengan resiko kalau ada orang yang menanyakan status YM-nya. Karena bagi saya, kalau saya tidak ingin orang lain bertanya-tanya, maka saya tidak akan memasang status YM apapun.
Namun sore hari itu saya mendapat pelajaran, saya tidak akan menanyakan apapun sehubungan status YM, kecuali saya yakin 100% bahwa status YM itu untuk saya…misalnya : jelas ditulis nama saya di stat itu. (hehehe…to the point bangeeeet yaaak)
Yah…gitu deh.
Emang gara-gara status YM, membuat jadi bad mood aja.
Selengkapnya...
Monday, April 7, 2008
Sampah berkedok Barang Rongsokan ?!
Saya termasuk orang yang senang menyimpan barang-barang lama, dengan alasan “dibuang sayang”, atau “mungkin suatu saat saya akan memerlukannya”, atau “barang ini punya kenangan khusus bagi saya”.
Sehingga jujur, rumah saya penuh dengan barang-barang lama, yang mgkn setengah rusak, bahkan rusak atau tidak terpakai lagi bertahun-tahun.
Terkadang, apabila ada barang yang rusak, saya tidak akan membuangnya, akan tetap saya simpan, dengan niat, akan saya perbaiki….namun nyatanya, tidak pernah saya perbaiki :-)Beautiful_garbage
Terkadang, bila membereskan rumah, saya mengumpulkan barang-barang yang tidak diperlukan, dengan dalih, nanti akan saya sortir kembali, apakah benar barang-barang tersebut sudah tidak dapat digunakan sama sekali….namun nyatanya, saya tidak punya cukup waktu untuk membuka kembali kotak / kantong tempat saya menampung sementara barang-barang tersebut.
Lama kelamaan, saya merasakan rumah saya penuh sesak.
Lama kelamaan, saya mulai kesulitan mencari tempat untuk menyimpan barang-barang lain yang masih berguna.
Lama kelamaan, saya merasa barang-barang tua itu menimbulkan masalah.
Tumpukan barang rongsokan mulai mengundang makhluk kecil berwarna hitam berjulukan “mickey mouse”…. :-)
Tentu nya ini bukan makhluk menyenangkan dari Disney World….ini makhluk menyebalkan yang dapat membawa penyakit.
Rasanya, sudah waktunya bagi saya untuk sungguh-sungguh membereskan masalah “rongsokan-sampah” ini di rumah saya.
Hal yang serupa, terjadi di “rumah hati” saya.
Ada banyak hal, banyak kenangan dan banyak orang berseliweran dalam hidup saya…menari-nari dipikiran saya, dan nongkrong di rumah hati saya.
Sebagian masih menjadi present tense bagi saya,
Sebagian present continuous tense,
Namun sebagian lagi sudah menjadi past tense bagi saya.
Setelah menyadarinya, saya menemukan analogi rumah hati saya dan rumah saya..
Analogi hal-hal yang berseliweran dalam hidup saya dan barang-barang rongsokan lama saya.
Tanpa saya sadari, kenangan lama yang buruk, yang mgkn saya harap dapat berubah menjadi baik…masih bertenggeran bertahun-tahun dalam rumah hati saya.
Tanpa saya sadari, orang-orang yang seharusnya menjadi “tokoh sejarah” bagi saya, ternyata masih saya anggap dan perlakukan sebagai “tokoh masa kini”.
Tanpa saya sadari, kenangan lama atau orang-orang yang menjadi “rongsokan” dalam hidup saya, masih tetap saya simpan, dengan harapan bisa saya perbaiki suatu saat….tanpa saya pernah sadari bahwa “rongsokan” tersebut sebenarnya hanyalah “sampah” yang tidak berarti…rongsokan itu sudah tidak dapat diperbaiki sama sekali.
Beberapa “rongsokan” itu bahkan sudah menjadi “sampah” yang menimbulkan masalah bagi saya…
menjadi sumber “penyakit” bagi saya… membuat “luka” bagi saya.
Seperti niat saya membersihkan rumah saya dan menyortir barang-barang saya dari barang-barang tidak berguna, demikian pula yang saya lakukan dengan “rumah hati” saya.
Tiba saatnya bagi saya membuang “sampah” yang semula saya kira barang rongsokan yang masih dapat diperbaiki.
Karena ternyata “sampah” ini sudah menjadi masalah bagi saya…sudah membuat saya sakit.
Menyedihkan ketika harus membuang barang tua yang telah sekian lama berdiam di dalam rumah, meskipun terkadang, kehadirannya pun jarang terasa…namun saya seakan tahu, bahwa barang itu ada disana, pada tempatnya dan bersama saya bertahun-tahun.
Namun, lebih menyedihkan lagi, mengetahui masalah, sakit dan luka yang ditimbulkan oleh barang tua tersebut.
Sehingga, dengan berusaha menikmati rasa sakit dan berteman dengan kesedihan….minggu lalu saya mengumpulkan barang rongsokan dari rumah hati saya dan melemparkan nya ke dalam api yang menyala, sebagian lagi saya lemparkan ke tong sampah….dengan pemikiran, biarkan pemulung yang memungutnya. Dan apabila pemulung tersebut membawanya ke tempat daur ulang, harapan saya, barang tersebut dapat di daur ulang…itu akan jauh lebih baik, karena saya tidak mampu untuk mendaur-ulangnya ,
Mudah-mudahan barang rongsokan itu setelah di daur ulang, dapat kembali digunakan, atau berubah menjadi sesuatu yang dapat digunakan untuk keperluan lain…..yang mana pun tidak masalah, semuanya jauh lebih baik daripada barang tersebut terus bercokol di rumah hati saya dan lama kelamaan menyakiti saya.
Ternyata, apa yang saya lakukan ini, melegakan….
Rumah hati saya terasa lebih longgar….lebih segar dan tidak terlalu sesak lagi.
Meskipun saya membutuhkan banyak waktu untuk membereskan semuanya….karena sudah terlalu banyak saya menimbun barang-barang rongsokan dalam rumah hati saya.
Ya….saya harus melanjutkan menyortir barang-barang tersebut,
Saya akan berusaha memperbaiki barang yang masih dapat diperbaiki, namun disamping itu saya akan belajar untuk membuang barang yang tidak dapat diperbaiki.
Mungkin apabila barang rongsokan yang saya buang itu dapat berbicara,
Mungkin ia akan berkata saya kejam, tidak menghargai kenangan yang sudah diberikannya kepada saya…
Mungkin ia akan memohon kepada saya untuk dibiarkan tetap menghuni salah satu sudut rumah hati saya….dan berjanji tidak akan mengganggu saya, atau menimbulkan masalah bagi saya, asalkan ia dibiarkan tetap dalam rumah hati saya.
Tidak….meskipun barang rongsokan itu dapat berbicara, bahkan berteriak menjerit sekalipun,
Saya tidak akan peduli…..dan dengan tegas akan saya katakan kepadanya….
“Sadarlah, engkau tidak lebih dari sampah…..”
Sampah yang saya biarkan menjadi penyakit bagi saya.
Saya sudah cukup hidup dan berteman dengan sampah yang berkedok barang rongsokan atau barang kenangan.
……………………Sudah saatnya saya membersihkan dan menata rumah hati saya
# Mohon maaf bagi sampah-sampah yang mengira dirinya adalah barang rongsokan yang layak disimpan. Seharusnya sampah-sampah itu sadar dan dengan rela digiring ke tempat daur ulang, dimana mgkn mereka akan dapat diperbaiki atau dijadikan sesuatu yang membuatnya kembali berguna....karena saya sudah tidak mampu lagi hidup berteman dengan sampah.
December 08, 2007 - My Friendster's Blog
Selengkapnya...