Showing posts with label humaniora. Show all posts
Showing posts with label humaniora. Show all posts

Thursday, November 6, 2008

GO - Generation Obama


"I will never forget who this victory truly belongs to – it belongs to you."
- Barack Obama, Election Night 2008

Sepertinya statement Barack Obama itu benar adanya. Bukan hanya anggota Partai Demokrat yang memiliki kemenangan itu, tapi seluruh pendukung Obama yang tersebar di seluruh dunia. Banyaknya tempat yang pernah menjadi tempat Obama bermukim juga telah membuat banyak orang merasa “memiliki” Obama. Termasuk Indonesia yang pernah menjadi tempat tinggal Obama kecil.

Ada seorang Bapak pegawai kantor saya yang merupakan “fans berat” Obama. Dari sejak pencalonan Obama, beliau dengan rajin mengikuti setiap perkembangan. Sampai akhirnya, setelah kemenangan Obama, beliau seperti turut merayakan kemenangannya. Dan seneeengnyaaa….kita-kita kecipratan juga. Beliau mentraktir semua orang di bagian saya dengan Nasi Padang lengkap….hehehehe….
Yuuup…beliau mentraktir atas kemenangan Obama. Saya benar-benar mengalami sendiri, kalau gelombang euphoria kemenangan Obama ini terasa sampai kemana-mana.

Seperti harapan semua pendukung Obama, kiranya karya nyata Obama nantinya sungguh dapat dirasakan, tidak hanya oleh warga Amerika, tapi juga mampu membawa angin segar perubahan baik politik maupun ekonomi dunia. Banyak harapan, banyak sandaran dan banyak mimpi yang dikalung bagi Obama dalam kemenangannya ini. Obama tetaplah Obama, manusia biasa ciptaan Tuhan yang mungkin dikaruniai kemampuan yang luar biasa, namun, tetaplah Obama membutuhkan dukungan dalam melaksanakan tugasnya, karena Obama bukanlah Superman 

I’m asking you to believe. Not just in my ability to bring about real change in Washington…
I’m asking you to believe in yours.
- Obama
Selengkapnya...

Wednesday, June 11, 2008

There's Good in Everyone

Kejadian yang saya alami Senin malam, membuat saya benar-benar bersyukur dan membuktikan bahwa, orang-orang baik itu ada dimana-mana. Dan ini merupakan kejadian serupa yang kedua kalinya.
Senin malam itu, saya bertemu dengan seorang teman saya di Senayan City Mall, setelah menemukan tempat yang nyaman untuk mengobrol dan mengerjakan sesuatu, kami memesan makanan dan minuman dan memulai obrolan kami.

Malam itu, memang kondisi saya sedikit kurang baik, karena sore hari mendadak saya merasa meriang, kaki dan tangan dingin, seperti masuk angin. Akhirnya, setelah duduk beberapa lama, saya pamit kepada teman saya untuk membeli minyak kayu putih, karena merasa perut saya sangat tidak nyaman. Segera setelah membeli minyak kayu putih, saya menuju ke rest room. Saya menaruh dompet saya, dibagian belakang dari toilet duduk di sana, meskipun sempat terlintas dalam pikiran saya, bahwa saya bisa lupa untuk mengambilnya kembali.

Setelah selesai, saya kembali ke tempat dimana teman saya berada, lalu duduk dan menenangkan diri sebentar untuk mengurangi rasa tidak ada dengan memejamkan mata sejenak.
Entah bagaimana, ketika memejamkan mata sejenak, saya seperti bermimpi, atau mungkin pikiran saya yang melayang. Tiba-tiba saya seperti mengingat, apakah tadi ketika hendak membeli minyak kayu putih, saya membawa dompet atau hanya mengambil uang ala kadarnya dari dompet? Tapi saya lalu teringat kalau ketika membayar di kasir, saya membuka dompet. Seketika itu juga saya terbangun dan segera memeriksa semua saku jaket saya, dan saya tidak menemukan dompet saya sama sekali.
Otomatis, saya pamit pada teman saya dan singkat mengatakan, “Dompet gue ketinggalan di rest room!”, sambil mengambil langkah seribu.

Dalam hitungan kurang dari 3 menit, saya sudah tiba di rest room dan langsung menuju bilik di mana tadi saya masuk, dan saya tidak melihat dompet saya di tempatnya semula. Saat itu juga saya langsung bertanya pada petugas yang menjaga saat itu, dan petugas itu langsung mengeluarkan dompet saya. Ahhh….Puji Tuhan, legaaaa sekali rasanya. Membayangkan kehilangan dompet saya yang berisi semua kartu ATM, KTP, kartu kredit dsb, saya merasa demam saya bertambah parah. Saya berterima kasih pada petugas tersebut dan memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasih saya yang nilainya jauuh dibawah nilai dari seluruh isi dompet saya dan kerepotan yang bisa ditimbulkan bila saya kehilangan dompet saya.

Sebelumnya saya sudah sempat putus asa, karena sempat terpikir oleh saya, tipis harapannya bila ada orang lain yang masuk setelah saya keluar dari bilik rest room itu dan mengambil dompet saya. Namun setelah mengalami, bahwa orang baik itu ada dimana-mana, saya berpikir, kemungkinan juga, orang yang masuk setelah saya, menemukan dompet saya dan menyerahkannya pada petugas. Intinya saya bersyukur sekali. Kira-kira 3 atau 4 tahun yang lalu, saya juga mengalami kejadian serupa, handphone saya tertinggal di taksi. Dan saya tidak menyadarinya, sampai ada yang menelpon saya dan mengatakan bahwa orang yang menemukan handphone saya, menelponnya dari handphone saya. Dan penumpang yang naik setelah saya itu, menyerahkan handphone itu kepada supir taksi untuk diantarkan kembali kepada saya. Dan sang supir taksipun langsung mengantarkannya ke kantor saya, setelah beliau selesai mengantarkan penumpangnya. Meskipun memang, pada akhirnya, handphone saya itu hilang juga karena dicopet ketika saya hendak naik bus Damri dari Bogor ke Jakarta…(yah, dah nasibnya tuh handphone kali….hehehe)

Yah, di ibukota yang seringkali membuat kita berpikir bahwa, kejahatan ada di mana-mana, terkadang sudah membuat kita berpikiran negative. Beberapa media massa yang mengkhususkan dirinya pada pemberitaan mengenai kejahatan-kejahatan di Ibukota juga sudah memicu kita secara tidak sadar untuk memiliki ketakutan akan seramnya Ibukota ini.

Bagaimanapun juga, waspada tetaplah dikumandangkan, namun, tidak berpikiran negative terhadap semua orang juga perlu ditanamkan.

“No one is entirely good or evil”



Selengkapnya...

Monday, April 7, 2008

dear "Mr.President"

Apa yang manusia cari di dunia ini?
Apa yang anda cari di dunia ini?
Apa yang saya cari di dunia ini?
…dalam hidup,
…dalam apa yang dilakukan?

Sebagian orang akan menjawab dengan mudah.
Mencari uang, mencari kesenangan, mencari kehormatan, karir……dsb.
Pernahkah anda mendengar seseorang berkata,
“saya hanya mencari sedikit makanan hari ini, karena tiga hari yang lalu adalah hari terakhir saya makan.”

Ironis….

Mungkin kita sering mendengar jawaban seperti tadi, terutama ketika kita berada diperempatan, di lampu merah, ketika seorang pengemis, pengamen, atau anak jalanan menghampiri kendaraan kita dan meminta uang receh.

Lantas, apa yang biasanya kita lakukan?

Simple..angkat tangan sedikit ke arah jendela (tentunya tanpa perlu membuka kaca mobil..), goyangkan/lambaikan tangan sedikit, dan efeknya…orang tadi akan pergi, pindah ke kendaraan lainnya.

Bagi sebagian besar kita, peristiwa tersebut mungkin merupakan cerita lama yang membosankan.
Sedikit ingin berbagi cerita,

Saya sebagai seorang pekerja, sudah pernah merasakan berbagai macam kendaraan yang bisa menghantar saya ke kantor.
Saya pernah naik mobil pribadi, pernah naik bis kota, pernah naik transjakarta, pernah mengendarai motor.

Suatu kali, saya pulang kantor dan memutuskan untuk naik bis biasa.
Setelah berganti bis 2x dari sudirman ke grogol, saya berniat naik transjakarta untuk sampai ke cengkareng dimana saya tinggal.
Saya turun di depan Mall Citraland, dan saya jalan kaki kea rah halte busway (Jelambar). Di depan mall tersebut, ada pagar pembatas 2 arah yang disediakan khusus bagi pejalan kaki yang menuju mall tersebut.

Ketika sedang menikmati perjalanan kaki saya, tiba-tiba mata saya tertuju pad 2 sosok anak kecil (laki-laki) yang tidur, persis di jalan yang berpagar tsb. Waktu itu kira-kira pukul 9 malam. Di jalan sesempit itu, mereka berdua tidur, yang satu berusia sekitar 8 th, dan satu lagi(mgkn adiknya) kira-kira berumur 4 atau 5 tahun.

Namun apa yang membuat saya kaget dan merasa miris adalah, anak yang lebih kecil, tidur tanpa memakai celana sama sekali…sehingga (maaf) alat vitalnya terlihat dan terbuka begitu saja, tanpa penutup apapun.
Waktu itu pikiran yang melintas, beranekaragam……kaget, bingung, sedih, bertanya-tanya.
Saya tahu, banyak sekali berita yang mengatakan bahwa pengemis, pengamen dsb, diorganisir secara rapi untuk memperoleh uang .
Banyak orang tua yang mengeksploitasi anaknya untuk mendapatkan uang tanpa bekerja.

Sehingga kita menjadi bingung……dilemma….

Apakah kita harus member ketika ada pengemis? Atau kah membiarkan saja, dengan dalih, tidak ingin membuat orang menjadi pemalas?
Terus terang, saya tidak suka menonton acara, atau membaca berita yang “menyedihkan” tentang kemiskinan dsb.

Mengapa? Bukan apa2…

Terlebih hanya karena merasa, saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengurangi angka kemiskinan di Negara ini.

Hopeless……

Begitu banyak org miskin…
Begitu banyak org yang menderita….
Apalah arti pemberian saya yang kecil?
Apa yang bisa saya lakukan?
Pemikiran seperti itu membuat saya apatis.

Belum lagi ditambah dengan berita bahwa, seringkali terjadi perampokan mobil2 di lampu merah.
Sehingga membuat kita enggan / ogah membuka kaca mobil untuk memberikan uang pada pengemis.
Memberi atau tidak memberi… yang seharusnya menjadi suatu pilihan mudah, menjadi terasa sulit….menjadi dilemma….

Namun malam itu, bayangan akan 2 anak tersebut, terus mengikuti saya.
Terlepas dari, apakah anak-anak tersebut dieksploitasi atau tidak……
Kenyataanya adalah, anak-anak tersebut menderita.
Saya membayangkan anak saya, yang Puji Tuhan, dapat hidup dengan layak.

Seringkali, sulit bagi kita untuk memberi sekedar uang logam 500 rupiah bagi pengemis…meskipun berdalih tdk ingin menjadikan org tsb malas.
Padahal……apakah karena kita menyayangi uang 500 rupiah itu?
Kalau memang demikian, mengapa uang receh seperti itu seringkali kita temukan di laci meja bertahun-tahun, di kolong meja, di sudut2 tas dan dompet yang tidak pernah tersentuh?

Saya teringat ketika waktu kecil saya sering menemani mama berbelanja ke pasar. Saya tidak menyukai saat-saat ketika saya harus menunggu mama saya tawar menawar dengan sangat a lot, hanya utk perbedaan harga 100 rupiah.
Bukan berarti saya menyepelekan uang 100 rupiah… bukan berarti saya menganggap uang 100 rupiah tidak ada artinya.

Kalau memang bagi kita uang 100 rupiah sangat berharga karena memang tidak memiliki uang berlebih, memang tidak salah bila menawar. Namun, bila proses tawar menawar itu dilakukan hanya untuk “kepuasan”……… alangkah menyedihkannya.

Apabila melihat kemiskinan, ketidakadilan bagi rakyat kecil..siapa yang harus dipersalahkan?
Pemerintah? Masyarakat elite yang menutup mata? Tuhan?

Satu hal yang saya pelajari malam itu……
Mengapa alasan bahwa hal “kecil” yang saya lakukan tidak akan mampu mengurangi kemiskinan di Negara ini, menjadi halangan bagi saya untuk memberi?
Mengapa alasan korupsi yg dilakukan oknum tertentu membuat saya enggan membayar pajak kepada Negara sesuai dengan yang sebenernya harus saya bayarkan?
Semua itu hanya akan membuat saya lelah dan sedih, namun menjadi apatis.
Sehingga lebih baik, saya memberi dengan kesadaran bahwa saya “memberi”.
Masalah nantinya ternyata, pemberian saya itu menjadikan org pemalas, atau disalahgunakan oleh oknum tertentu……biarlah menjadi urusan yang bersangkutan kepada Tuhan.
Saya tidak perlu lagi memikirkan, apakah pemberian tersebut berarti atau tidak.

Apakah saya perlu memikirkan mengapa pemerintah atau Bapak Presiden seakan-akan menutup mata?
Atau, pernah kah mereka berjalan dijalan seperti yang saya lakukan malam itu, dan melihat kenyataan seperti itu?

Saya teringat akan 1 lagu dari Grup Musik Pink, yang berjudul : Dear Mr President.

Dear Mr. President
Come take a walk with me
Let's pretend we're just two people and
You're not better than me
I'd like to ask you some questions if we can speak honestly

What do you feel when you see all the homeless on the street
Who do you pray for at night before you go to sleep
What do you feel when you look in the mirror
Are you proud

How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye
And tell me why

Dear Mr. President
Were you a lonely boy
Are you a lonely boy
Are you a lonely boy
How can you say
No child is left behind
We're not dumb and we're not blind
They're all sitting in your cells
While you pave the road to hell

What kind of father would take his own daughter's rights away
And what kind of father might hate his own daughter if she were gay
I can only imagine what the first lady has to say
You've come a long way from whiskey and cocaine

How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye

Let me tell you ‘bout hard work
Minimum wage with a baby on the way
Let me tell you ‘bout hard work
Rebuilding your house after the bombs took them away
Let me tell you bout hard work
Building a bed out of a cardboard box
Let me tell you bout hard work
Hard work
Hard work
You don't know nothing bout hard work
Hard work
Hard work
Oh

How do you sleep at night
How do you walk with your head held high
Dear Mr. President
You'd never take a walk with me
Would you?

Rasanya tidak perlu saya menghabiskan waktu dengan berusaha agar Presiden mendengar & melihat.
Saya sebagai pribadi pun sebenernya memiliki “kekuasaan”, sebagaimana adanya saya…kekuasaan atas diri saya.

Setiap kita, dalam posisi apapun, sebagai majikan di rumah, sebagai atasan di kantor, sebagai pemilik perusahaan atau apapun yang menempatkan diri kita sebagai orang yang “memiliki kuasa”, atau “menentukan hajat hidup orang lain”…….. pernah kah kita mencoba utk “berjalan” bersama orang-orang tsb ? Bersikap bahwa tidak ada perbedaan antara kita dan org tsb, bahwa kita tidak lebih “punya” atau lebih baik dari org tsb ? Bersikap tidak hanya simpati, namun juga empati ?

Memahami mengapa seseorang harus “mengemis” daripada menyibukan diri dengan pertanyaan apakah “pemberian” kita akan berakibat buruk bagi org tsb?
Sehingga lagu itu sebenarnya bukan ditujukan bagi Bapak Presiden yang duduk di Istana Negara saja, tapi juga bagi diri saya, dengan segala kecukupan dan kelebihan yang saya miliki.

Ada pepatah yang mengatakan : sebab nila setitik rusak susu sebelanga.

Tapi saya gemar membalik pepatah itu menjadi : susu setitik tidak mungkin memutihkan tinta sebelanga.
Tapi, lebih baik saya menjadi setitik susu dari pada tidak menjadi apapun sama sekali.
Lebih baik saya menjadi setitik susu sambil berharap, ada titik-titik susu lainnya yang selanjutnya akan berkumpul hingga sanggup memutihkan tinta sebelanga itu…….

November 28, 2007 - My Frienster's Blog

Selengkapnya...

Justice maybe blind, but (when) it can see in the dark…??

Hari ini, ada kejadian yang begitu menabrak pikiran saya…dan mengobrak-abrik perasaan saya.
Pernahkan anda membayangkan diri anda mengalami kejadian berikut,
Pagi hari anda berangkat kerja ke kantor….namun, sore hari anda pulang tanpa pekerjaan.
Dipecat? Dirumahkan?
Apapun istilahnya.

Terbayangkah oleh anda, apa yang akan anda katakan kepada keluarga yang menggantungkan isi perutnya pada anda?
Terbayangkah oleh anda, kemana anda akan pergi esok pagi…untuk menghindari pertanyaan keluarga anda, bila anda tidak ingin keluarga anda tahu?
Terbayangkah oleh anda, apabila anak anda sedang sakit dan membutuhkan uang anda untuk mengobati sakitnya?

Mungkin bagi orang yang tidak sanggup membayangkan dan tidak kuat menanggungnya…yang akan terbayang oleh nya hanyalah kegelapan, yang tanpa dia sadari, menuntunnya melangkah ke lantai tertinggi sebuah gedung dan berharap agar terjun bebas akan mengakhiri segala kegelapan itu.

Ya…hari ini, seorang satpam yang saya kenal…di “rumahkan”… dengan alasan kontraknya tidak diperpanjang, padahal dia sudah bekerja bertahun-tahun.
Apa sebenernya yang terjadi?

Banyaknya kehilangan yang terjadi di tempatnya bekerja…mulai dari handphone sampai laptop, membuatnya seakan harus bertanggung jawab, meskipun bila dilihat kasusnya…tidak beralasan untuk menuduhnya, dan tidak ada bukti-bukti.
Seperti rumor yang ada, ya…karena tidak ditemukan siapa pelakunya, maka harus ada yang “bertanggungjawab” dan “dikorbankan”.

Saya tidak membela siapa pun.
Apakah sungguh dia tidak melakukannya? … only God knows.
Apakah perusahaan melakukan kesalahan dengan memberhentikannya? …. Only God knows.

Apakah “pengorbanan” ini benar akan meniadakan kemungkinan hal yang sama akan terulang kembali, karena timbulnya rasa takut dengan melihat apa yang terjadi pada “korban”?... Only God knows.
Namun…. Only God knows too, dan hanya Tuhan yang bisa melakukan perhitungan terhadap pelaku sesungguhnya.

Justice maybe blind, but it can see in the dark….
Tapi kapan?

Silahkan anda tonton sendiri acara kupas tuntas, atau yang sejenisnya.. saya tidak hapal nama acaranya. Berapa banyak kesalahan yang dilakukan oleh hukum, dengan menghukum orang yang tidak bersalah?
Bahkan belasan tahun seseorang dipenjara, sampai akhirnya ditemukan bahwa dia tidak bersalah.
Lantas, apa yang dilakukan oleh Keadilan untuk menebus belasan tahun yang telah dia derita?

Bila HUKUM bersalah, lantas siapa yang akan mengHUKUMnya?

Siapapun kita, dapat melakukan kejahatan, baik disengaja maupun tidak disengaja.
Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa kejahatan atau kesalahan yang kita perbuat..ditanggung oleh orang lain? Di derita oleh orang lain?
Pencuri yang tidak tertangkap mungkin akan merasa dirinya hebat.

Namun pernah pencuri itu berpikir bahwa, ada orang lain yang HARUS DITANGKAP, demi SELESAI nya KASUS dan demi TIDAK ADANYA LAGI yang berani berbuat hal yang sama???
Apa jadinya bila orang yang tidak semestinya ditangkap itu merupakan tempat selusin anggota keluarga menggantungkan isi perut padanya???

Setiap kejadian buruk dalam hidup saya, saya mempercayai bahwa hal itu terjadi hanya karena 3 hal :
1. Karena merupakan bagian dari rencana Tuhan
2. Karena kesalahan diri saya sendiri
3. Karena kesalahan orang lain

Seringkali kita mendengar orang berkata demikian apabila kemalangan menimpa dirinya, “Yah..mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan untuk menguji saya”
Apakah benar selalu demikian?

Bayangkanlah, bila ada seseorang yang sudah patuh berjalan dengan baik dan benar di sisi pejalan kaki yang jauh dari jalan raya. Namun tiba-tiba orang tersebut cacat parah karena ditabrak oleh seorang pengemudi yang mabuk?

Apakah kehendak Tuhan, orang tersebut cacat? …… Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang buruk bagi umat Nya.
Apakah ini kesalahan si pejalan kaki itu? …. Tidak, dia sudah berjalan dengan benar dan memenuhi peraturan.
Apakah karena kesalahan orang lain? …. Ya tentu saja, karena dia sudah mabuk.

Akhirnya semua kejadian hari ini, saya tutup malam ini dengan sebuah perenungan bagi diri saya sendiri.
Pernahkah saya melakukan suatu kesalahan yang mengakibatkan orang lain menanggung akibatnya? Kemungkinan besar pernah… dan saya memohon ampun pada Tuhan atas itu.

Akhirnya saya sungguh-sungguh mengerti dan memahami sebuah quote yang sangat-sangat saya sukai akhir-akhir ini :
I get peace, knowing that what I have done in the day will allow me to sleep well at night. I get peace, knowing that what I am doing now will not give me grief or regret in my old age - venerable manko.

November 13, 2007

Selengkapnya...